Kepekaan Harry dan dan John Terhadap Realitas

0
Protes warga Maluku ©Sam Pormes

Protes warga Maluku
©Sam Pormes

Di medsos berbagai kelompok warga Maluku di Belanda menyatakan tidak senang atas kunjungan Presiden Joko Widodo ke Belanda. Imbauan yang sudah hampir menjadi permohonan bermunculan untuk menentang kunjungan ini, untuk menggelar unjuk rasa dan memasang bendera RMS di jalan-jalan yang akan dilewati Jokowi.

Tapi sangat sediki yang berminat berdemonstrasi. Dengan lima orang relawan sudah bisa menggelar parade bendera kecil-kecilan.
Perasaan hampir kasihan muncul di benak saya ketika mendengar berita bahwa pemimpin RMS John Wattilete mengirim surat imbauan kepada perdana menteri Belanda Mark Rutte.

Harry van Bommel
Ini sebenarnya bukan gagasan dia sendiri. Dia dibantu oleh anggota parlemen dari partai sosialis SP, Harry van Bommel. Karena surat hanya bermanfaat kalau disertai dengan acara debat di parlemen. Dulu RMS bisa mengandalkan partai-partai kristen kecil. Tapi sejak Harry berteman baik dengan penulis Maluku Silvia Pessireron, ia mengikuti petunjuknya dengan buta.

Silvia ini menderita semacam Islamofobia. Tahun 2010 Ada tiga gedung gereja Maluku pernah dibakar Silvia serta merta menuduh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) berada di baliknya. Ketika Ambon diancam konflik agama, ia dengan cepatnya menuding muslim. Ini membuat kita meragukan kepekaan realitasnya. Tapi Harry tetap taklid buta terhadap Silvia.

Partai Sosialis SP dulu secara ideologis berpihak pada Soekarno. Menentang kolonialisme. Sejak beberapa tahun ini Harry berputar balik 180 derajat.
Nenek moyang ideologinya di kuburan akan gelisah. Dia pikir: persahabatan itu ada harganya.

John Wattilete
Wattilete meminta perdana menteri Rutte untuk mengusahakan pertemuan dengan Presiden Jokowi. Wattilete mau berbicara tentang eksploitasi dan

John Wattilete, presiden RMS ©Sam Pormes

John Wattilete, presiden RMS
©Sam Pormes

penindasan rakyat Maluku. Tentang pengeboran minyak di blok Masela. Tentang pelanggaran kebebasan berekspresi. Wattilete sepertinya hidup di tahun tujuh puluh dan delapan puluhan. Tidak tahu bahwa zaman Orde Baru sudah lewat. Bahwa demokrasi sudah pulih. Bahwa warga Maluku sudah bisa memilih sendiri bupati, anggota DPRD provinsi dan kabupaten.

Di zaman penjajahan petani Maluku diperas. Mereka dipaksa menjual cengkeh dan pala kepada pihak yang monopoli. Orde Baru menjadikan ini sebagai contoh. Petani ditekan untuk menjual hasil panen mereka kepada Tommy Suharto. Tapi sejak reformasi petani bebas. Harga naik sampai hampir sepuluh lipat. Penghasilan petani meningkat 10 lipat. Inikah pemerasan?

Menara Group yang memiliki 25 perusahaan palsu pernah membeli 500.000 hektar tanah di Aru. Sebuah pulau di Maluku bagian Tenggara. 75 persen hutan di pulau itu ditebangi untuk kepentingan kebun tebu. Akibatnya bencana alam mengancam. Surat-surat perizinan dibeli. Bukan dari pemerintah pusat tapi dari pemda. Tidak lama kemudian pria terkait dipecat karena korupsi.

Gubernur, seorang warga Maluku asli, juga ikut-ikutan. Ia pun mengeluarkan surat-surat perizinan. Lalu koalisi yang terdiri dari ilmuwan, mahasiswa, LSM, MUI, Sinoda gereja memprotes. Namun pemda Maluku tuli. Akhirnya yang menyelamatkan adalah menteri di Jakarta. Ia menolak memberi izin penebangan pohon. Skakmat bagi Menara Group. Inikah penindasan Jakarta?

Blok Masela
Akhirnya soal ladang gas dan minyak Masela. Wattilete ingin agar Shell menepati janjinya mengenai eksploitasi. Inilah bukti bahwa ia tidak memahami kenyataan. Shell menginginkan eksploitasi di laut. Lebih murah. Banyak membawa untung. Kembali muncul protes massal. Masyarakat madani memberontak. Mereka ingin agar eksploitasi dilakukan di darat.

Memang ini kurang banyak menghasilkan laba, tapi banyak menyerap tenaga kerja. Universitas Pattimura di Ambon menjamin, bahwa buruh cukup kompeten. Bertentangan dengan keinginan Shell Presiden Jokowi memihak kepada masyarakat madani. Eksploitasi harus dilakukan dari darat.

Ini bertentangan dengan keinginan Shell. Dan keinginan Wattilete juga? Ada baiknya kalau Wattilete lebih memahami kenyataan sekarang. Mendengarkan suara masyarakat madani di Maluku. Dan Harry? Populisme juga sudah menguasai Partai Sosialis dalam kebijakan luar negerinya.

Sam Pormes
Mantan Senator Partai Hijau GroenLinks

Komentar Via Facebook

Share.

About Author

Leave A Reply