Pilkada Maluku Mendekati Permainan Akhir

0

©http://www.idn-nl.com/

Pada 27 Juni 2018 akan digelar pemilihan Gubernur Maluku. Sebanyak 1.228.946 elektorat di 9 distrik dan dua kota akan menyoblos di hampir 4000 tempat pemungutan suara (TPS). Akhir perebutan kursi sudah tampak. Minggu depan akan diumumkan siapa di antara 16 balon (bakal calon)akan lolos menjadi calon. Tapi apa aturan mainnya? Calon mana saja yang memiliki kans besar dan apa lagi yang berperanan. Berikut ini sebuah upaya penguraian.

*Sam Pormes

Permainan awal
Untuk bisa ikut pilkada seorang bakal calon harus memiliki dukungan 20 persen dari anggota DPRD. Pembagian kursi DPRD sekarang terdiri dari: PDIP (7), Golkar (6), Demokrat (6), PKS (6), Gerindra (5), Nasdem (4), Hanura (4), PKB (3), PKPI (2), PAN (1), PPP (1). Totalnya 45 kursi.

Diperlukan 9 kursi. Minimal harus didukung 2 partai. Juga mungkin untuk mendapatkan 25% suara. Secara teori seseorang yang didukung kurang dari 9 kursi mungkin juga untuk dicalonkan. Tapi untuk itu diperlukan pemilih dari partai-partai yang tidak berhasil mencapai ambang pintu.
Selain juga masih ada kemungkinan untuk maju sebagai calon independen. Tapi untuk itu diperlukan sekitar 125.000 tandatangan pemilih yang disertai dengan KTP. Lalu dukungannya harus tersebar berimbang di kepulauan. Tapi ini tidak gampang.

Pencalonan
Setengah lalu ada 16 calon yang maju untuk mencari dukungan partai. Setelah itu mulailah permainan perebutan kursi. Sudah lama menjadi rahasia umum seorang calon sekurangnya harus memiliki satu juta euro di rekening banknya untuk bisa berhasil menjadi calon. Ini semua tidak gratis. Harus mengeluarkan uang. Jumlahnya tidak bisa diverifikasi. Dirahasiakan. Tapi ada yang menyebut 1 sampai 4 miliar rupiah.
Partai-partai yang tahu bahwa mereka diperlukan bagi seorang calon supaya memperoleh dukungan 9 kursi, jual mahal. Sebenarnya partai-partai yang tidak mengajukan calon juga begitu.

Siapa saja para calonnya?
Sekarang sudah mulai agak jelas bahwa ada dua calon yang sudah pasti mencalonkan diri untuk menjadi Gubernur. Assagaff, gubernur petahana dan mantan Kapolda Murad. Assagaff sudah menunjuk cawagubnya yaitu Bupati Maluku Tenggara. Ini merupakan langkah yang sangat strategis. Dua calon ini diusung oleh Golkar dan PKS. Jumlah kursinya dua belas.

Berdasarkan pengalaman masa silam, elektorat dari Tenggara, Tenggara Barat, Aru, Barat Daya dan Tual mencoblos calon dari Terselatan.
Pada pilkada yang lalu Herman Koedoeboen (Kei) berhasil menang di kabupaten-kapupaten tersebut di atas dan di Tual. Akhirnya dia kalah sama Vannath, bupati Ceram kala itu, hanya dengan perbedaan suara beberapa ribu saja. Vannath akhirnya dikalahkan oleh Assagaff.

Sekarang yang menjadi penantang adalah Murad. Dia adalah mantan Kapolda Maluku dan sekarang menjabat Komandan Brimob. Murad sudah meraih dukungan Nasdem, Hanura dan PKPI. Jumlah kursinya 10. Tapi siapa yang menjadi cawagubnya Murad? Banyak spekulasi tentang ini.
Supaya bisa mengalahkan Assagaff, Murad mengharapkan dukungan PDIP. Ada tiga calon. Anggota parlemen yang populer Mercy Barends, Bupata Tenggara Barat, Orno dan Herman Koedoeboen. Tapi Mercy tampaknya sudah menolak. Ia baru tiga tahu duduk di parlemen dan masih mau menambah pengalaman. Mercy tampaknya lebih cocok untuk menjadi gubernur perempuan pertama pada 2024.

Herman tidak mau menjadi pemain biola kedua dan akan maju sebagai calon independen. Lalu sisanya Barnabas Orno, Bupati Maluku Tenggara Barat (Tanimbar). Tapi ini tidak tanpa risiko. Ia disebut dalam penyelidikan kasus korupsi subsidi desa di Maluku Tenggara Barat. Masih ada kemungkinan minggu depan akan muncul calon dari topi sulap Megawati, Ketum PDIP. Yang mungkin bisa memunculkan dadakan adalah Herman Koedoeboen, Jaksa Tinggi di Semarang, Jawa Tengah. Bersama mantan bupati Ceram Timur ia membentuk tim HEBAT.
Tapi untuk itu mereka minggu depan harus sudah berhasil mengumpulkan 125.000 tandatangan yang dituntut untuk diverifikasi.
Kalau desas-desus ini benar, maka mereka akan memenuhi syarat.

Lalu masih ada aksi dari Waeleruni-Kairoty. Waeleruni yang namanya jadi terkenal karena kecendrungan dukungannya terhadap RMS, pada 1 November lalu mengumumkan bahwa dirinya akan muncul sebagai calon independen. Tapi mengingat waktu hanya tinggal satu bulan lagi, ini sepertinya lebih merupakan stunt publisitas atau Waeleruni bakal diganjar untuk dengan cara ini menyingkirkan Koedoeboen. Ia harus meraih sebanyak mungkin tanda tangan dari pendukung Koedoeboen sehingga ia gagal. Kan cuma boleh boleh mendukung satu calon.

Kans yang ada
Sampai sekarang gubernur Maluku terpilih dari Golkar dan PDIP. Jadi kans buat Murad dan Assagaff tampaknya masih besar. Tapi kedua orang ini khawatir juga menghadapi Koedoeboen-Vannath. Ada tiga alasan. Pertama mereka populer di kabupaten Terselatan, kota Ambon dan Ceram Timur. Ditambah lagi kenyataan bahwa belum pernah orang berasal dari Terselatan dan Ceram yang sempat memimpin Maluku.

Alasan kedua makin banyak orang meninggalkan partai yang biasanya mereka dukung. Mereka tidak fanatik partai lagi. Semacam sekularisasi politik. Akhirnya agama tetap memegang peranan yang berarti. Herman, seorang kristen protestan, berhadapan dengan dua orang muslim yakni Murad dan Assagaff. Suara umat Islam terpecah oleh dua calon, sementara umat Kristiani tidak menghadapi masalah ini. Tapi kartu agama lebih banyak berperanan di pedesaan ketimbang di kota-kota.

Namun masih ada alasan keempat. Kartu populistis dan etnosentris. Dengan mencontoh Jakarta, tidak tertutup kemungkinan asal muasal Murad dan Assagaff akan diperhatikan. Kedua orang ini bukan asli Maluku. Di Belanda hal ini tidak aneh. Contohnya Beta Anak Maluku Melanesia.
Semoga ini tidak terjadi. Yang jelas suasananya akan seru.

*Koordinator Taskforce Maluku & Maluku Utara Diaspora Indonesia di Belanda

Komentar Via Facebook

Share.

About Author

Leave A Reply