Surat Untuk Jokowi dari Tribunal Rakyat Internasional (IPT) 1965

0
©Facebook

©Facebook

Di tengah kunjungan Bapak ke Eropa, saat ini sejumlah menteri dan pejabat Bapak di Jakarta, tengah menyelenggarakan simposium dan menyiapkan rumusan menuju penyelesaian Peristiwa 1965. Demikian awal surat terbuka Tribunal Rakyat Internasional (IPT) 1965 atau IPT195 kepada presiden Joko Widodo yang mau berkunjung ke Belanda. Surat terbuka ini tertera di halam facebook: Friends of People’s Tribunal 1965.

Kami sambut hangat niat tersebut dengan tulus. Sehubungan dengan hal tersebut kami ingin menyampaikan beberapa hal berikut:

Kami sangat menyesalkan pernyataan Menko Polhukam Luhut Panjaitan, yang jauh-jauh hari (15/3/2016), telah menegaskan bahwa Pemerintah :1) Tidak bermaksud meminta maaf kepada para korban, serta 2) Menutup kemungkinan penyelesaian melalui jalur hukum (pro justitia).

Seperti Bapak Presiden ketahui, kami, sejumlah aktivis masyarakat sipil Indonesia dan internasional pada 10 -14 November 2015 lalu, menggelar Tribunal Rakyat Internasional (IPT) 1965 guna menggalang sejumlah kesaksian dan bahan-bahan bukti yang kuat, dari para korban maupun para pakar mengenai Peristiwa Kejahatan HAM Berat 1965 dan sesudahnya. Tribunal tersebut dipimpin oleh para profesional yang sangat berpengalaman dan ahli dibidangnya dan juga dihadiri oleh Komisioner Komnas HAM dan Komnas Perempuan yang mengkonfirmasi data-data yang dikemukakan oleh korban dan para ahli sesuai dengan laporan yang telah mereka buat 4 tahun lalu.

Pengungkapan kebenaran
Berdasarkan hasil-hasil Tribunal tersebut, dan keputusan sementara panel hakim, izinkan kami mengingatkan beberapa ihwal prinsipal : Tujuan rekonsiliasi hanya dapat dicapai jika dilakukan dengan pengungkapan kebenaran, yakni dengan menempuh jalur yudisial sebagai kelanjutan dari laporan yang dibuat Komnas HAM (2012).

Pemerintah selayaknya memfasilitasi dan mendorong rekonsiliasi di tingkat nasional maupun daerah; antara lain dengan memfasilitasi penguburan kembali, memorialisasi dan rekonsiliasi tingkat akar rumput.
Presiden berdasarkan pasal 14 UUD 1945 berkewajiban melakukan rehabilitasi termasuk melakukan rehabilitasi terhadap nama Soekarno dan atas nama Pemerintah meminta maaf kepada korban Peristiwa 1965 khususnya dan Bangsa Indonesia pada umumnya; yang secara nasional selama lebih dari 50 tahun tak diberi kesempatan mengetahui sejarah bangsanya secara jujur. Fakta adanya korban massal pada Peristiwa 1965, bukanlah semata masalah Bangsa Indonesia, tetapi masalah dalam komunitas Internasional.

Penyelidikan nasional
Pemerintah selayaknya melakukan penyelidikan nasional (national inquiry) berdasarkan dokumen dan kesaksian yang telah dikumpulkan dan diteliti selama ini oleh Komnas HAM, Komnas Perempuan, para organisasi non pemerintah dan perguruan tinggi dalam dan luar negeri, serta kesaksian para saksi ahli yang dikemukakan dalam Tribunal Rakyat Internasional 1965; dengan menitikberatkan, keadilan, kebenaran dan perlindungan kepada saksi dan korban.

Pemerintah selain berkewajiban melakukan pelurusan sejarah dengan menulis kembali sejarah sesuai dengan fakta, dan terutama dengan mengubah materi pendidikan baik secara formal maupun informal, juga berkewajiban menurut hukum untuk mencabut semua peraturan perundangan, kebijakan dan praktek-praktek yang mendiskriminasikan korban dan keluarganya.

Komisi kepresidenan
Dalam pertimbangan kami, jika pun terdapat masalah-masalah yang tak dapat diatasi mengingat kurun waktu panjang yang telah berlalu (50 tahun), barulah perlu mencari kesepakatan, misalnya dengan membentuk Komisi Kepresidenan Untuk Kebenaran dan Pemulihan Korban melalui suatu Keputusan Presiden.

Demikian pernyataan ini kami sampaikan dengan harapan semoga mendapat perhatian Bapak Presiden mengingat penyelesaian secara adil dan beradab bagi sebuah masalah bangsa tersebut di atas, semakin mendesak.

Terima kasih atas perhatian yang diberikan.

Den Haag, April 2016
Hormat kami,
Atas nama IPT 1965

Nursyahbani Katjasungkana
Koordinator IPT 1965

Sungkono
Ketua Yayasan IPT 1965

Komentar Via Facebook

Share.

About Author

Leave A Reply